Cerita Ngawur

“Kejadian Tanggal 18”

Saat mataku terbuka langsung tertuju pada jam dinding di atas lemari yang menunjukkan pukul 04.23 am, kutarik selimutku dan bergegas beranjak dari kasur, aku tak menggunakan ranjang karena memang tak mau menggunakannya (tak mau atau tak punya?). Dengan segera aku melakukan persiapan untuk memulai aktifitas hari ini.

Biasanya sebelum turun ke lapangan aku mampir dulu ke kantor, kulirik arloji di pergelangan tangan kiriku menunjukkan sudah pukul 08.07 am saat aku menunggang sepeda motorku di perjalanan.

Yah,,, setelah menimbang, mengingat, dan akhirnya memutuskan sebaiknya langsung saja kelapangan dan mengecek material di sana, akupun segera menambah kecepatan sepeda motorku dengan tujuan lekas sampai di lokasi proyek.

Ada satu hal yang berbeda hari ini, apakah ini perasaan-ku saja atau fakta dan kenyataan, bahwa jalanan terasa lebih lenggang dan sepi daripada hari senin yang biasanya, apalagi saat jam-jam sibuk seperti sekarang, tapi ya sudahlah.

Ketika aku memasuki lokasi proyek, 2 buah sepeda motor terparkir di samping pintu gerbang dengan salah satunya masih dalam keadaan masih menyala mesinnya, kuacuhkan hal itu dan terus masuk kedalal lokasi. Ketika sampai di depan bangunan direksi keet, aku melihat tak satupun sepeda motor terparkir disana, yang ada hanya sebuah sepeda kumbang dengan 2 buah keranjang yang bersandar di kanan-kiri sisi sepeda itu.

Kumatikan sepeda motorku dengan memutar kunci ke arah off, dan memasuki ruang depan direksi keet, kondisinya masih seperti waktu aku tinggalkan pulang terakhir kali pada hari sabtu, minggu kemarin.

Kemudian aku masuk terus ke ruangan terakhir di belakang tempat penyimpanan material, yang juga bisa dimasuki dari samping bangunan, tapi pintunya harus terbuka, dan saat ini pintu tersebut masih tertutup.

Setelah cukup diyakinkan dengan pandanganku, aku keluar dari direksi keet dan menuju ke sebuah bangunan yang tidak bisa disebut bangunan, sebab belum memiliki dinding dan atap, hanya tiang-tiang yang terbungkus papan dengan rapat dan pada ujung atasnya menonjol beberapa batang besi dengan warna karat kehitaman.

Aku menemukan seorang pria paruh baya yang kukenal sebagai pekerja disini dan kusapa dia,

“Pagi pak, lho anak buah-nye mane nih?, pak Mansur mane?, ade nak saye omongkan nih dengan die”.

“Lho pak Isnu?, rajin gak pagi-pagi hari libur datang ke-sine, disuroh lembur keh dengan boss?”

“Hah, bapak tau dari mane hari ini libur?”

“Eeh pak Isnu tak tau keh hari ini hari libur?, semalam 17 Agustus-an kan kenak hari minggu, jadi hari ini libur nye, gitu kali maksud pemerintah bikin hari ini libur, cobe bapak liat kalender”.

Dibenak-ku bergumam bahwa pantas tadi di perjalanan terasa sedikit sepi, tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang.

Tapi seingatku terakhir kulihat kalender hari ini bukan tanggal merah melainkan tanggal hitam seperti hari-hari biasanya, apakah ada yang mengubah warna merah angka 18 di kalenderku menjadi warna hitam dengan sepidol?.

Ahhh sudahlah, setelah mengucapkan salam perpisahan seadanya pada kepala tukang tadi, akupun kembali berada dijalanan dengan mengendarai sepeda motorku.

Timbul keinginan dalam benakku untuk ke kantor dan mengecek kebenaran bahwa hari ini libur, ketika sepeda motorku sampai pada persimpangan antara ke kiri menuju kantor atau lurus menuju rumahku, sekonyong-konyongnya tanpa aku sadari sepeda motorku menambah kecepatan untuk lurus kedepan. Ketika aku tersadar bahwa persimpangan itu sudah jauh berada di belakangku, aku tertawa dalam hati, aha…!!!

Dasar pemalas dan bukan tipe yang rajin bekerja, ujarku.

Yaaahhh,,, sudahlah, setidaknya aku punya kesibukan baru dirumah yang sudah lama kutinggalkan, salah satunya menulis ini dan menerbitkannya.

“Ramadhan Ke-6, SMS Malam-malam…”

Sejujurnya tidak banyak para “lawan jenis” yang tau no hape saiia, menyombongkan diri? ya nggak lah, hanya saja ingin “merendahkan diri meninggikan mutu” (halah sama saja tuw).

Saat mau tidur dengan segera memejamkan mata karena esok harus sahur, aku dikejutkan oleh bunyi dering hape, astaghfirullahul’aziim, ku lihat di jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.30 Wib, siapakah gerangan yang me-ngontek hp ku malam-malam begini? (hiiiyyy…), ternyata sebuah sms dengan nomor asing +6281345743xxx (tidak tersimpan di buku telp) yang isinya begini neh :

Yaa Allah…sumber pemberi cinta kepada semua ciptaanNya…

Taburkanlah kasih sayang pada saudariku yang baik ini,

Bukakan pintu cintaMu kala ia tunduk mengingatMu,

Peluklah ia dalam pusaran ridhoMu,

Rentangkanlah ampunanMu sepanjang ia lintasi hamparan jalan hidupnya,

Wujudkan harapannya & bebaskan ia dari dosa dan kesulitan sebagaimana Kau janjikan,

Seusai ia bersujud & memujiMu, & tiada henti tuk memohon ampunan padaMu.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa.

Setelah membaca sms tadi, aku cuma bisa berkata amiiin dalam hati sambil manggut-manggut, nih orang sms malam-malam apa salah alamat yak? kok aku dibilang “saudari”? emang aku cewek? dari mana dia dapat no hape ku? Dia siapa yak? wanita atau pria?

Bermacam-macam pertanyaan muncul di kepalaku, tanda-tanya, tanda-seru, tanda-tanda, tanda-biru, eeeh tenda biru, ya udah.

Akupun kembali mencoba memejamkan mata, besok harus sahur lagi neh,

bissmillah… z z z z z z z z z z z z z z…

“Menikahhh :mrgreen:

Saya terkejut ketika membaca surat yang dikirimkan seorang teman kental melalui email saya, ia dapatkan dari sahabatnya (seperti email berantai), yang isinya begini…

Oleh : Rico Atmaka

Sahabat-sahabat, ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan untuk menikah dan menyegerakannya.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak bertanya tentang calon istriku, aku jemput dia di tempat yang Allah suka, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Allah. Sehingga aku nikahi seorang wanita tegar dan begitu berbakti kepada suami.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan istriku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan istriku, yang rasanya sulit aku tandingi.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Yaa Allah, jadikan dia, seorang wanita, istri dan ibu anak-anakku, yang dapat menjadi jalan menuju surgamu. Amin.

Sahabat-sahabat, kalau Allah menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…yang…dan ke-1000 “yang” lain-lainnya, karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Niatkan semua karena Allah dan harus yakin kepada Sang Maha Penentu segalanya.

Sahabat-sahabat, ketika usiaku 25 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 30 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 35 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

Ketika aku minta yang cantik, aku berpikir sudah tampankah aku? Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku? Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku? Bahkan ketika aku minta yang solehah, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehkah aku?

Ketika aku meminta sedikit… Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit…Ya Allah, siapapun wanita yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allah-pun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi suami dari seorang istri yang melahirkan dua orang anakku.

Sahabatku, 10 tahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak. Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada yang suadh aku jalani. Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu 10 tahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh. Harus lebih cepat!!! Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua.. Amin.

“Dengan MEMBERI hati ini menjadi lapang dan hati juga menjadi bahagia. So, mulailah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup ini…”
Wassalam…

Waaah, pengen bener dia melihat saya menikah yah :lol: , tapi saya sambut niat baikmu bro, semoga Allah mengabulkan semua keinginan kita, amin.

16 Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. huee.. huee.. dasar. sama kita.. :D

  2. ehehe :D

  3. Hmm.. secret adimire… :) tapi kok “saudari”? salah ketik kali….

    *ga tau juga tuw mas, mungkin cuma salah alamat (menenangkan diri) ehe :D

  4. penggemar rahasia? palingan sms nyasar tuh ;)

    *mudah-mudahan bukan ;)

  5. nyasar yang membawa berkah kayaknya :D

    *amiiiinnn :D

  6. wah, ternyata hanya mang yang jarang kunjungan ke rekan ibsn, maaf aja yah…..makasih lho udah mampir di rumah mang….
    Wassalam

    *sama2 mang makasih juga..

  7. Itu mah bukan SMS nyasar, memang sengaja dikirim sama empunya.
    Yang sangat disayangkan : kenapa nomor hpnya Mas. bukannya ke Mba… :D
    salam

    *haaha, iya, kenapa ya?

  8. cieeee yang punya penggemar rahasia :P ..suitt suittuiwww

    ngawur banget ya siulannya :P


    suitt suittuiwww juga buat mbak yessy ;)

  9. mungkin gw nih penggemar rahasia n’te…
    thank’s dah nyasar keblogku jangan ampe kapok ya…?


    haah, jangan deh :mrgreen:
    insyaAllah ga kapok, asal ga ada herder nya :D

  10. ceritanya lom dibaca sih… tapi karna mau dikenal aja makanya aq numpang comment disini… gpp kan….


    saya kenal ipul kok ;)

  11. Amiin!!
    Mudah mudahan yach!! ^.^v


    amiin, sie kapan :mrgreen:

  12. hihihihi….
    Bisa2nei lho gak ngerti kalu libur.
    Sms nyasar di nomor yg tepat. Loh???? :D
    Amiiinnnn…..

  13. Nyasar gak Nyasar Asal kumpul……….:D

    peace….Salam kenal

  14. ass. waduh alhamdulillah aqu temukan tulisan ini. aqu mau donk carany gimana bikin webset. seperti ini aqu jg suka menulis dan aqu punya kumpulan koleksi foto2 aqu yang selalu kemana2 membawa kamera digitalqu,,,,, salam kenal febyyandaru

  15. hehehe mungkin yang ngganti warna tanggal itu setan kali yahhhh…

  16. mungkin itu memang sms nyasar, tapi enak juga ya punya temen baru,hehehe………..


Tinggalkan sebuah tanggapan

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.